Petaka di Lintasan: 5 Pembalap MotoGP yang Kehilangan Nyawa secara Tragis

7 April 2020, 19:20 WIB
Editor: I Gede Ardy Estrada
Sejak gelaran Kejuaraan Dunia Balap Motor atau MotoGP digelar pada 1949, telah banyak pembalap yang tewas dalam perlombaan. /Grafis Yusuf/Skor.id

  • Ajang balap motor dianggap lebih berbahaya daripada mobil karena alat proteksi yang terbatas.
  • MotoGP berusaha melindungi pembalap dengan mengaplikasikan teknologi pada seragam yang dikenakan.
  • Banyak rider telah jadi korban MotoGP sejak digelar pada 1949, termasuk Marco Simoncelli.

SKOR.id – Banyak pihak beranggapan, ajang balap motor lebih berbahaya dibandingkan mobil. Pemikiran ini masuk akal jika melihat fakta di lintasan. Contohnya MotoGP.

Tak seperti pembalap Formula 1 (F1) yang dapat fitur perlindungan di mobilnya, tingkat keamanan para rider dalam Kejuaraaan Dunia Balap Motor itu hanya berasal dari kostum yang mereka pakai.

Sementara membuat atau mengaplikasikan proteksi tambahan pada kendaraan untuk dapat membantu mengurangi risiko jika terjadi kecelakaan hampir mustahil dilakukan.

Sebagai antisipasi, Federasi Balap Motor Internasional (FIM) dan Dorna Sports memaksimalkan perlindungan dari seragam kulit dan helm yang dikenakan Valentino Rossi dan koleganya.

Alat proteksi diri ini dirancang sedemikian rupa demi melindungi pembalap dari efek fatal yang mungkin terjadi saat mengalami insiden atau kecelakaan sepanjang perlombaan.

Kostum layaknya robot tersebut dilengkapi penggeser logam serta plastik, kantong udara (airbag), akselerometer, dan giroskop sebagai penghubung sistem elektronik di dalamnya.

Teknologi ini memastikan para rider terlindung saat terjatuh. Kendati demikian, seperti halnya dalam ajang balap, hal tersebut tidak benar-benar menjamin keselamatan mereka.

“Motor dan perlengkapan balap semakin canggih berkat teknologi, tetapi pembalap adalah manusia. Badan kami tetap sama,” ujar pembalap tim Ducati Andrea Dovizioso.

Sepanjang penyelenggaraannya, telah banyak terjadi kecelakaan fatal di lintasan MotoGP. Tidak sedikit yang merenggut nyawa para rider.

Baca Juga: Loris Capirossi: MotoGP Harus Ubah Aturan Usia demi Valentino Rossi

Sebanyak 30 rider kehilangan nyawa dalam Kejuaraan Balap Motor Dunia level tertinggi 500cc/MotoGP sejak digelar pada 1949. Jumlahnya jauh lebih banyak jika menghitung setiap kelas.

Ajang balap motor jelas menuntut konsentrasi ekstrem dari pembalapnya. Jika lengah, bukan hanya nyawa mereka, tetapi keselamatan orang lain menjadi taruhan.

Dari berbagai sumber, Skor.id mengupas lima rider yang mengalami petaka di lintasan dan harus kehilangan nyawanya secara tragis saat memacu motornya dalam kecepatan tinggi.

Leslie Graham (Sirkuit Snaefell Mountain, GP Isle of Man – 12 Juni 1953)

Giacomo Agostini dan Valentino Rossi dikenal sebagai dua pembalap terbanyak menjadi juara dunia kelas 500cc/MotoGP. Namun sosok pertama yang meraih status itu adalah Leslie Graham.

Pembalap asal Inggris ini keluar sebagai kampiun gelaran perdana Kejuaraan Dunia Balap Motor kelas 500cc pada 1949 dengan motor AJS Porcupine.

Kala itu, dalam lima seri GP, ia unggul satu poin dari rider Italia Nello Pagani. Selepas sukses tersebut, Graham tak pernah mampu kembali menjadi juara dunia.

Namun pada gelaran 1953, sang rider kembali difavoritkan setelah berhasil keluar sebagai runner-up dengan tim MV Agusta Racing di musim sebelumnya.

Malangnya, tragedi di Isle of Man TT, yang ketika itu menjadi bagian dari seri MotoGP, menyudahi perlawanan Leslie Graham dalam usia 41 tahun.

Baca Juga: Ducati Sarankan MotoGP 2020 Digelar di 5 Negara Saja

Pada Jumat, 12 Juni 1953, Graham kehilangan kontrol atas motornya. Ia terjatuh dalam kecepatan tinggi setelah melewati persimpangan Bray Hill dan tewas seketika.

Sebagai bentuk penghormatan, tim MV Agusta memutuskan mundur pada musim itu. Selang dua tahun, namanya diabadikan sebagai sebuah shelter di jalur pegunungan Snaefell, Graham Memorial.

Patrick Pons (Sirkuit Silverstone, GP Inggris – 10 Agustus 1980)

Patrick Pons merupakan salah satu rider top Prancis pada dekade 1970-an. Ia telah mencicipi berbagai kelas Kejuaraan Dunia Balap Motor, dari 250cc, 350cc, hingga 500cc bersama Yamaha.

Meski tak pernah memenangi GP, Pons 11 kali naik podium dari 59 kali race. Namun ia sempat menjadi juara dunia Formula 750 pada 1979. Sayang, karier balapnya hanya bertahan tujuh tahun.

Insiden fatal di Sirkuit Silverstone, Inggris pada 10 Agustus 1980 mengakhiri hidupnya. Menurut catatan, Pons mengalami kecelakaan parah dalam kecepatan 240 km per jam di Tikungan Beckets.

Ada dua versi terkait kejadian yang menewaskannya di usia 27 tahun tersebut. Pertama, Patrick Pons dikabarkan tertabrak oleh pembalap lain, yakni kompatriotnya Michel Rougerie.

Versi kedua menyebutkan bahwa Pons dihantam motornya sendiri yang sempat terlempar ke udara. Ia mengalami cedera kepala parah dan segera ditransfer ke Rumah Sakit Northampton.

Tak pernah lagi sadar, Patrick Pons menghembuskan napas terakhir pada 12 Agustus 1980 atau dua hari pasca-kecelakaan tragis di Sirkuit Silverstone.

Malangnya, Michel Rougerie juga tewas dalam kecelakaan serupa dengan Pons. Ia tertabrak pembalap Prancis, Roger Sybille dalam GP Yugoslavia di Sirkuit Grobnik, 31 Mei 1981. 

Norman Brown Jr. (Sirkuit Silverstone, GP Inggris – 31 Juli 1983)

Gelaran GP Inggris di Sirkuit Silverstone pada 31 Juli 1983 akan terus terkenang sebagai momen kelam dalam Kejuaraan Dunia Balap Motor. Race di kelas 500cc hari itu menelan korban jiwa.

Norman Brown Jr. mencoba masuk ke pit stop karena masalah mesin. Pembalap Irlandia Utara itu memperlambat laju motor Suzuki RG500 yang dikendarainya saat memasuki Stowe Corner.

Namun dalam kondisi hujan ringan kala itu, penglihatan para rider sedikit terganggu meski tetap memacu kencang motor mereka. Ketika keluar dari tikungan Stowe, insiden terjadi.

Ketika rombongan pembalap memasuki area tersebut, beberapa berhasil menghindari Brown. Namun nahas bagi Peter Huber yang berada paling belakang.

Baca Juga: Mantan Rider MotoGP Ini Tak Ingin Rivalitasnya dengan Valentino Rossi Terulang

Pandangan visual pria asal Swiss itu terhalang beberapa rider di depannya. Begitu akan keluar dari Stowe Corner dengan kecepatan maksimum, tabrakan dengan Norman Brown tak terhindarkan.  

Juru bicara Sirkuit Silverston Juliet Brindley mengonfirmasi Brown tewas ditempat akibat cedera fatal. Kala itu usianya baru 24 tahun. Sebelumnya, ia berhasil memenangi Isle of Man TT 1982.  

Sementara Huber, saat itu berumur 28 tahun, sempat dibawa ke Rumah Sakit John Radcliffe dengan helikopter. Namun nyawanya tak tertolong. Ia wafat dalam perjalanan.

Daijiro Kato (Sirkuit Suzuka, GP Jepang – 6 April 2003)

Berstatus sebagai juara dunia kelas 250cc, Daijiro Kato tampil impresif pada musim debutnya di MotoGP 2002. Ia finis di posisi ketujuh klasemen akhir dan dua kali meraih podium.

Musim kedua di kelas tertinggi, ia satu tim dengan Sete Gibernau. Harapan tinggi menyelimuti Kato setelah performa impresif sepanjang 2002. Ia dinilai akan mampu lebih kompetitif.

Tetapi, ekspektasi tersebut tidak pernah terwujud. Pembalap Jepang tersebut tewas dalam seri pembuka GP 2003 yang ironisnya berlangsung di Sirkuit Suzuka.

Daijiro Kato menabrak dinding pembatas di dekat Casio Triangle dengan kecepatan sekitar 200 km/jam. Menurut hasil investigasi, kecelakaan terjadi akibat hilangnya kontrol dan osilasi pada motor.

Kecelakaan itu membuat Kato mengalami luka parah. Benturan kepala dengan pembatas menyebabkan sambungan antara pangkal tengkorak dan tulang belakang lehernya mengalami dislokasi.

Kato mengalami koma selama dua pekan sebelum menghembuskan napas terakhirnya pada usia 26 tahun. Penyebab kematiannya adalah kerusakan batang otak.

Untuk mengenang dan menghormati Daijiro Kato, seluruh pembalap mengenakan armband hitam dan mencantumkan No.74 di kostum dan motornya pada GP Afrika Selatan.

FIM lalu memensiunkan nomor milik Kato itu. Pihak MotoGP juga mencoret Sirkuit Suzuka dari daftar kalender balap mereka. Sirkuit Motegi lalu dipilih untuk menggelar GP Jepang hingga hari ini. 

Marco Simoncelli (Sirkuit Sepang, GP Malaysia – 23 Oktober 2011)

Seperti Daijiro Kato, karier Marco Simoncelli berakhir prematur di kelas MotoGP. Rider asal Italia itu hanya bertahan dua musim. Kecelakaan mengerikan merenggut nyawanya pada usia 24 tahun.

Sebelum Marc Marquez, Simoncelli merupakan rival terberat Valentino Rossi di MotoGP. Ia memiliki potensi besar untuk menjadi juara dunia MotoGP. Sayang, hal itu tidak sempat terwujud.

Perjalangannya sebagai pembalap terhenti pada seri ke-17 MotoGP 2011 di Sirkuit Sepang, Malaysia, 23 Oktober. Simoncelli terlibat tabrakan dengan Colin Edwards dan Valentino Rossi.

Baca Juga: Bos Dorna Tak Masalah MotoGP 2020 Hanya Gelar 10 Balapan

Berada di posisi keempat pada lap kedua, Simoncelli gagal menjaga keseimbangan akibat motornya kehilangan traksi di Turn 11 lalu meluncur melintasi jalur Edwards dan Rossi.

Insiden tragis tak terhindarkan. Tubuhnya terlindas motor Colin Edwards. Kepalanya tergilas tunggangan Rossi hingga helmnya terlepas. Simoncelli tewas akibat cedera parah di dada, leher, dan kepala.

Terlepasnya helm dari kepala sang pembalap dianggap janggal. Ini memicu desakan agar MotoGP menetapkan standar pelindung kepala yang lebih ketat dan aman.

Sekitar 20 ribu orang menghadiri pemakaman Marco Simoncelli termasuk Valentino Rossi dan rekan-rekan. Pada Februari 2014, ia dinobatkan sebagai legenda ke-21 MotoGP.

  • Sumber: motorsportmagazine.com, Intents GP
  • Tag

    Video

    Komentar

    Terbaru

    MotoGp

    Kamis, 13 Agustus 2020

    Termasuk MotoGP, Sirkuit Aragon Akan Gelar Balapan Tertutup hingga 4 Bulan ke Depan

    Pengelola Sirkuit Aragon memutuskan menggelar ajang Superbike, MotoGP, dan Touring Car Cup 2020, tanpa penonton.

    MotoGp

    Kamis, 13 Agustus 2020

    Ducati Incar Pembalap Moto2 untuk Pramac Racing 2021

    Ducati dikabarkan tertarik merekrut Enea Bastianini untuk mengisi kursi Pramac Racing pada MotoGP 2021.

    MotoGp

    Kamis, 13 Agustus 2020

    Jadwal MotoGP Austria 2020: Menanti Kelanjutan Dominasi Ducati

    Berikut jadwal lengkap MotoGP Austria 2020 yang akan digelar di Red Bull Ring, Spielberg, Austria, pada 14-16 Agustus 2020.

    MotoGp

    Rabu, 12 Agustus 2020

    MotoGP Austria 2020: Valentino Rossi Ingin Ulang Performa Apik Tahun Lalu

    Valentino Rossi bertekad mengulang performa apiknya kala tampil di Red Bull Ring untuk MotoGP Austria 2020.

    MotoGp

    Rabu, 12 Agustus 2020

    MotoGP Austria 2020: Ingin Fokus, Andrea Dovizioso Abaikan Rekor Apik Ducati

    Ducati punya rekor apik kala tampil di Red Bull Ring. Namun, Andrea Dovizioso tak ingin terlalu memikirkannya kala tampil di GP Austria 2020.

    MotoGp

    Rabu, 12 Agustus 2020

    Keraguan Johann Zarco Melecut Tim Reale Avintia

    Johann Zarco menyebut teknisi Tim Reale Avintia tahun lalu tidak buruk tapi tak punya sumber daya dan perangkat kompetitif dari Ducati.

    MotoGp

    Rabu, 12 Agustus 2020

    Bos KTM Akui Dani Pedrosa Menjadi Kunci Sukses dari Proyek Tim

    Pit Beirer menegaskan kehadiran Dani Pedrosa mengubah arah pengembangan KTM terhadap RC16.

    MotoGp

    Rabu, 12 Agustus 2020

    Andrea Dovizioso Ingin Ducati Bekerja dengan Cara Berbeda

    Pembalap Andrea Dovizioso meyakini Ducati harus bekerja dengan arah berbeda jika ingin Desmosedici GP20 cocok dengan ban baru.

    MotoGp

    Selasa, 11 Agustus 2020

    MotoGP Austria 2020: Franco Morbidelli Makin Pede Berkat Podium di Ceko

    Kepercayaan diri Franco Morbidelli meningkat setelah ia mendapatkan podium perdananya di kelas utama MotoGP pada pekan lalu.

    MotoGp

    Selasa, 11 Agustus 2020

    MotoGP Austria 2020: Alex Marquez Belum Lelah Belajar

    Alex Marquez mengaku masih ingin terus belajar memahami persaingan di kelas MotoGP dan bertekad memangkas gap dengan pembalap lain.

    Terpopuler

    Sepak Pojok

    Sepak Pojok

    X